Waduh, betul-betul gila!! Saya baru sadar setelah membaca tulisan bung Irawan ini. Saya tidak menyangka majalah FORUM yang kesohor itu ternyata sekarang di isi oleh orang-orang semacam itu.
Tapi saya juga memang punya cerita yang hampir sama. Cerita ini saya dengar dari teman saya yang berprofesi sebagai pengacara. Namanya tidak perlu saya sebutkan. Tapi dia berkantor di jalan yang sama dengan alamat FORUM. Dia hampir di todong FORUM
Waktu itu, di akhir tahun 2006, katanya FORUM bakal membuat sebuah edisi khusus yang isinya tentang profil pengacara-pengacara . Tapi bukan profil pengacara-pengacara pilihan. Tapi siapa saja pengacara boleh dijadikan profil. Bukan pengacara terbaik versi FORUM misalnya.
Untuk bisa di profilkan di FORUM, ternyata syaratanya tidak susah. Pengacara yang berminat cukup membayarkan sejumlah uang. Jumlah yang diminta juga tidak banyak. Hanya berkisar 10 jutaan saja.
Nah, kebetulan teman saya yang pengacara itu kenal dengan pimred FORUM. Suatu kali, pimred FORUM itu datang kekantornya dan berbincang-bincang tentang hal itu. Si Pimred itu (tidak etis bila saya sebutkan namanya) langsung menunjuk teman saya itu untuk menghubungkan dengan kalangan pengacara-pengacara . Maksudnya agar setiap pengacara yang bersedia di profilkan agar segera memasang di FORUM untuk edisi khusus akhir tahun. Saya juga termasuk salah satu yang dihubungi.
Mendengar hal itu, tentu saya kaget. Karena tidak menyangka ternyata FORUM melakukan tindakan seperti itu. Artinya membuat profil pengacara untuk dijadikan edisi khusus. Hal ini sama saja dengan menjatuhkan wibawa pengacara. Karena advokat itu pada intinya tidak boleh memasang iklan. Terus terang saya kecewa mendengar rencana majalah FORUM yang dari dulu sudah dikenal sebagai bacaan orang hukum.
Saya hanya berharap agar melalui forum ini, majalah FORUM bisa tersadarkan. Janganlah menjadi media yang tidak bernilai. Karena sejak dulu FORUM adalah majalah berkelas dan selalu menjadi panutan. Tapi kini saya lihat malah semakin parah. Berita-berita yang ditulis tidak lagi menggigit untuk mengulas tentang kasus hukumnya.
Apalagi bung Irawan, saya lihat sudah tidak ada lagi tulisan dan analisis khas anda di majalah FORUM. Padahal anda sempat memenangkan Anugerah Adiwarta Sampoerna lewat tulisan anda. Tapi, saya sempat terpikir, bagaimana anda bisa menghasilkan tulisan yang sangat bermutu bila kondisi majalah anda itu seperti itu? Tidak digaji dan tidak mendapatkan uang transport yang cukup? Karena tulisan anda itu mengalahkan dua nominator dari Tempo yang notabene memiliki iklim kerja yang lebih baik?
Salam,
Santun Sinaga, SH
Minggu, 20 Januari 2008
Cerita dibalik Iklan Belakang Majalah FORUM Keadilan (Pemerasan Terhadap PT MAKINDO dan Gunawan Jusuf episod II)
Memang hal seperti itu lazim di media manapun. Tapi cerita di FORUM Keadilan (selanjutnya ditulis FORUM) sangat berbeda. Karena media ini memang sudah memiliki nama besar. Jadi saat ini hanya dimanfaatkan oleh segelintir penjabat redaksi saja untuk mencari uang. Tanpa mempertimbangkan prinsip jurnalistik yang baik.
Cerita tentang Makindo dan kisah foto Gunawan Jusuf yang dipanpang terus di halaman cover belakang FORUM itu cukup jadi bukti. Waktu itu, Priyono Bandot Sumbogo, dia inilah yang jadi penanggungjawab sementara di FORUM, bermakdus mengambil duit gede dari PT Makindo. Tapi ceritanya dia kena tipu.
Karena gagal ngambil duit Makindo, akhirnya Priyono pake cara lain. Dia nyeberang memihak lawannya Makindo di. Kebetulan ada "bencong" yang rajin datang ke FORUM. Bencong ini mengaku bisa menghubungkan dengan si lawan Makindo itu. Sementara Priyono memang tak punya hubungan dengan beliau. (Dengan siapapun dia tak punya memang). Alhasil, mantan wartawan yang bekas di pecat TEMPO, GATRA, GAMMA dan PILARS itu pun percaya saja sama bencong. Tentu dengan konsekwensi si bencong itu mampu menyampaikan maksud Priyono agar membayar sejumlah yang kepadanya.
Maka, jadilah cerita tentang Gunawan Jusuf di buat di rubrik forum utama. Wajah Gunawan di pampang di cover depan. Judulnya langsung memvonis, "The King of Crime". Tanpa ada wawancara dari pihak Gunawan Jusuf, berita itu tetap diturunkan.
Ternyata, setelah terbit, di bencong itu pun menghilang. Priyono cuma gigit jari. Dia kena tipu. Kabarnya, si bencong itu sudah mendapat uang dari lawannya Makindo itu. Tapi tidak diberikan ke Priyono. Alhasil, si penanggung jawab redaksi itupun cuma bisa menulis di FORUM. Dia ditipu bencong. Tentu karena niatnya mengambil duit dari Makindo tak kesampaian.
cerita berlanjut. Ternyata Priyono masih penasaran. Dia mencari jalan lain. Dia berusaha menghubungi pengacara Gunawan Jusuf. Pengacara itu Hotman Paris Hutapea. Hotman tentu marah ketika Priyono menyampaikan maksud dan tujuannya. Ya pasti ingin mendapatkan uang dari Makindo. priyono pun kena damprat habis-habisan sama Hotman. Sudah tak dapat uang, kena damprat lagi. Kaccian sekali deh pemred yang satu ini. Sama sekali tak ada wibawanya.
dendam dengan Hotman, ternyata dia mengintruksikan agar menulis panjang tentang pengacara itu. Priyono pun memberi instruksi di rapat redaksi. Hotman harus ditulis sebagai pengacara hitam. Tapi Priyono sama sekali tak memberi bahan dan data sedikitpun. Dia hanya emosi karena dimarah-marahi Hotman.
Saya, yang kebetulan waktu itu menjabat redaktur hukum, ditugasi menulis itu. Karena perintah penanggungjawab redaksi, tentu saya tak bisa menolak. Kisah tentang Hotman pun ditulis. Bahan dan data saya cari dengan reportase ke beberapa pengacara dan kasus yang ada. Memang, ada beberapa pengacara yang mengkategorikan Hotman tergolong "hitam".Tapi mengukurnya tentu tak gampang. Karena susah pembuktiannya. Tapi, tulisan mesti jadi. Priyono tak mau tau. Dia tetap menginginkan tulisan Hotman sebagai pengacara hitam. Tapi dia sama sekali tak berbuat apa-apa. Tak ada bantuan sedikitpun darinya.
Alhasil, saya menulisnya dengan septi. Tak langsung menohok Hotman sebagai pengacara hitam. Hanya menceritakan kisah orang yang pernah kalah ketika melawan Makindo ketika memakai Hotman. Karena menulis hukum tentu tak bisa serampangan. Tak bisa asal tuduh saja. Namun herannya Priyono sama sekali tak memahami hal itu. Padahal dia itu penanggungjawab redaksi. Tapi begitulah kondisi di FORUM.
Setelah majalah terbit, dan foto Hotman dipajang di cover depan, Hotman marah-marah kepada saya. Karena ditulisan itu nama saya yang tertulis. Bukan Priyono. Proses marahnya Hotman itu mulanya akan saya buat laporan ke Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) dan Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) tempat Hotman bernaung. Tapi, sebelumnya saya sampaikan ke Priyono. Eh, dia malah tidak respon. Seolah laki-laki ini tak mau ambil pusing atas kejadian yang dialami wartawannya. Wajahnya memancarkan ketakutan. karena memang Priyono ini bukan orang hukum. Sama sekali tak mengerti hukum.
Pastinya, sangat menyesakkan bekerja di FORUM sebagai wartawan. Karena kita tidak dididik menjadi wartawan yang idealis. Melainkan siperintahkan untuk menulis berita yang bisa menghasilkan uang. Sungguh nafik sekali.
Kini lihatlah kondisi FORUM sekarang. Hidup segan mati tak mau. Wartawannya digaji dengan rendah sekali. Di suruh menulis sampai sepuluh halaman tiap pekan. Gajinya, alamak, sering dibayar tidak full. Kalau gaji 2 juta, sebulan kadang hanya terima 1 juta saja. Itu masih syukur, karena lebih sering tidak gajian. Padahal iklan pesanan banyak masuk. Tapi uang entah lari kemana. Bisa jadi dinikmati sendiri oleh Priyono itu.
Cerita tentang Makindo dan kisah foto Gunawan Jusuf yang dipanpang terus di halaman cover belakang FORUM itu cukup jadi bukti. Waktu itu, Priyono Bandot Sumbogo, dia inilah yang jadi penanggungjawab sementara di FORUM, bermakdus mengambil duit gede dari PT Makindo. Tapi ceritanya dia kena tipu.
Karena gagal ngambil duit Makindo, akhirnya Priyono pake cara lain. Dia nyeberang memihak lawannya Makindo di. Kebetulan ada "bencong" yang rajin datang ke FORUM. Bencong ini mengaku bisa menghubungkan dengan si lawan Makindo itu. Sementara Priyono memang tak punya hubungan dengan beliau. (Dengan siapapun dia tak punya memang). Alhasil, mantan wartawan yang bekas di pecat TEMPO, GATRA, GAMMA dan PILARS itu pun percaya saja sama bencong. Tentu dengan konsekwensi si bencong itu mampu menyampaikan maksud Priyono agar membayar sejumlah yang kepadanya.
Maka, jadilah cerita tentang Gunawan Jusuf di buat di rubrik forum utama. Wajah Gunawan di pampang di cover depan. Judulnya langsung memvonis, "The King of Crime". Tanpa ada wawancara dari pihak Gunawan Jusuf, berita itu tetap diturunkan.
Ternyata, setelah terbit, di bencong itu pun menghilang. Priyono cuma gigit jari. Dia kena tipu. Kabarnya, si bencong itu sudah mendapat uang dari lawannya Makindo itu. Tapi tidak diberikan ke Priyono. Alhasil, si penanggung jawab redaksi itupun cuma bisa menulis di FORUM. Dia ditipu bencong. Tentu karena niatnya mengambil duit dari Makindo tak kesampaian.
cerita berlanjut. Ternyata Priyono masih penasaran. Dia mencari jalan lain. Dia berusaha menghubungi pengacara Gunawan Jusuf. Pengacara itu Hotman Paris Hutapea. Hotman tentu marah ketika Priyono menyampaikan maksud dan tujuannya. Ya pasti ingin mendapatkan uang dari Makindo. priyono pun kena damprat habis-habisan sama Hotman. Sudah tak dapat uang, kena damprat lagi. Kaccian sekali deh pemred yang satu ini. Sama sekali tak ada wibawanya.
dendam dengan Hotman, ternyata dia mengintruksikan agar menulis panjang tentang pengacara itu. Priyono pun memberi instruksi di rapat redaksi. Hotman harus ditulis sebagai pengacara hitam. Tapi Priyono sama sekali tak memberi bahan dan data sedikitpun. Dia hanya emosi karena dimarah-marahi Hotman.
Saya, yang kebetulan waktu itu menjabat redaktur hukum, ditugasi menulis itu. Karena perintah penanggungjawab redaksi, tentu saya tak bisa menolak. Kisah tentang Hotman pun ditulis. Bahan dan data saya cari dengan reportase ke beberapa pengacara dan kasus yang ada. Memang, ada beberapa pengacara yang mengkategorikan Hotman tergolong "hitam".Tapi mengukurnya tentu tak gampang. Karena susah pembuktiannya. Tapi, tulisan mesti jadi. Priyono tak mau tau. Dia tetap menginginkan tulisan Hotman sebagai pengacara hitam. Tapi dia sama sekali tak berbuat apa-apa. Tak ada bantuan sedikitpun darinya.
Alhasil, saya menulisnya dengan septi. Tak langsung menohok Hotman sebagai pengacara hitam. Hanya menceritakan kisah orang yang pernah kalah ketika melawan Makindo ketika memakai Hotman. Karena menulis hukum tentu tak bisa serampangan. Tak bisa asal tuduh saja. Namun herannya Priyono sama sekali tak memahami hal itu. Padahal dia itu penanggungjawab redaksi. Tapi begitulah kondisi di FORUM.
Setelah majalah terbit, dan foto Hotman dipajang di cover depan, Hotman marah-marah kepada saya. Karena ditulisan itu nama saya yang tertulis. Bukan Priyono. Proses marahnya Hotman itu mulanya akan saya buat laporan ke Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) dan Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) tempat Hotman bernaung. Tapi, sebelumnya saya sampaikan ke Priyono. Eh, dia malah tidak respon. Seolah laki-laki ini tak mau ambil pusing atas kejadian yang dialami wartawannya. Wajahnya memancarkan ketakutan. karena memang Priyono ini bukan orang hukum. Sama sekali tak mengerti hukum.
Pastinya, sangat menyesakkan bekerja di FORUM sebagai wartawan. Karena kita tidak dididik menjadi wartawan yang idealis. Melainkan siperintahkan untuk menulis berita yang bisa menghasilkan uang. Sungguh nafik sekali.
Kini lihatlah kondisi FORUM sekarang. Hidup segan mati tak mau. Wartawannya digaji dengan rendah sekali. Di suruh menulis sampai sepuluh halaman tiap pekan. Gajinya, alamak, sering dibayar tidak full. Kalau gaji 2 juta, sebulan kadang hanya terima 1 juta saja. Itu masih syukur, karena lebih sering tidak gajian. Padahal iklan pesanan banyak masuk. Tapi uang entah lari kemana. Bisa jadi dinikmati sendiri oleh Priyono itu.
Cerita dibalik Iklan Belakang Majalah FORUM Keadilan (Pemerasan Terhadap PT MAKINDO dan Gunawan Jusuf)
On 1/8/07, anu kuality <anu_donk@yahoo. co.id> wrote:
--- Budi Sucahyo wrote:Cerita di Balik "Iklan Cover Belakang" Majalah Forum KeadilanEntah sudah berapa edisi majalah Forum Keadilanmemajang "iklan satu halaman" yang ditempatkan dicover belakang majalah (padahal sebelumnya "iklan" itutelah muncul di halaman dalam). Kalau Anda sesekalimelihat majalah itu, cobalah tengok dan perhatikan"iklan" yang dimaksud. Ya. Sebenarnya itu bukanlahiklan komersial. Itu hanyalah sebuah "iklan" promosimajalah ini. "Masih Banyak Tunggakan Hukum BelumDiselesaikan" . Begitu kalimat di atas. Lalu,terpampang sebuah cover majalah Forum Keadilan No.10/26 Juni-2 Juli 2006. Dalam cover itu hanya adasebuah foto besar Gunawan Yusuf. Lalu, sebuah judulyang bernada provokasi, "The King of Crime".Sekilas, tak ada yang istimewa dari "iklan" itu.Namun, bagi saya, justru ini membuat tergelitik.Mengapa "iklan" itu yang muncul (atau dengan kata lainpengelola Forum memang sengaja membuat dan untukdimuat) secara berulang-ulang— tentu mungkin karenamajalah itu tidak mendapatkan iklan display lainnya(tetapi kok harus iklan yang itu?). Kedua, mengapaharus ditampilkan di cover belakang yang notabeneadalah halaman yang pasti dilihat pembaca (karena ituharga iklan di halaman ini cukup mahal)? Tentu,maksudnya agar iklan itu menarik perhatian orang.Perlu pula dipersoalkan, dari segi etika jurnalistik,judul yang dibuat pun sudah menjustifikasi, "The Kingof Crime". Apakah judul seperti ini yang diajarkan didunia jurnalistik?Terlepas dari persoalan "layak tidaknya iklan" itu(sudah pasti dilihat dari sisi manapun "iklan promosi"tersebut sangat tidak layak), ternyata selidik punyaselidik "penampakan" iklan secara terus menerus dimajalah itu punya cerita tersendiri. Kisah ini sayaperoleh dari kalangan dalam majalah Forum Keadilan itusendiri. Jadi, pengelola Forum Keadilan memang sengajamemajang iklan promosi itu dengan maksud untukmendiskreditkan alias "memeras" seseorang yangberkaitan dengan sang "King of The Crime" tersebut.Judul cover "King of Crime" majalah Forum Keadilan ituadalah laporan utama majalah itu pada Juni 2006.Munculnya cover story itu berawal ketika penanggungjawab redaksi majalah Forum Keadilan, Priyono B.Sumbogo, dihubungi oleh seseorang yang meminta agarkasus penggelapan pajak PT Makindo Tbk tidakdiekspose. Orang tersebut menjanjikan imbalan yangcukup menggiurkan, Rp 400 juta jika Majalah ForumKeadilan tidak menulis kasus tersebut.Tawaran orang itu tidak serta merta diterima. PriyonoB. Sumbogo malah meminta lebih. Penanggung jawabredaksi yang pernah bekerja di majalah Tempo, Gatra,Gamma, ini menawar Rp 500 juta. Weleh…weleh…Rupanya,sang penanggung jawab redaksi ini ingin mencarikeuntungan sebesar-besarnya. Kesepakatan tidaktercapai.Setelah itu, masih berkaitan dengan kasus penggelapanpajak PT Makindo Tbk, datang lagi "broker" lain.Broker ini langsung bertandang ke kantor ForumKeadilan di Palmerah Barat 23c. Karena sering datangke kantor, awak Forum Keadilan menjuluki si "broker"ini sebagai "bencong"--- lagak lagunya memang sepertibencong sih. Nah, si "bencong" ini ingin memanfaatkanMajalah Forum Keadilan juga untuk menangguk untung.Kali ini, Redaktur Eksekutif Majalah Forum Keadilan,Sukowati Utami, yang bernegosiasi (tentu atas arahanpenanggungjawab redaksi). Si broker menjanjikan pasangiklan dengan nominal diatas Rp 500 juta (paling tidakbisa mengamankan gaji karyawan selama dua tahun )kepada Sukowati Utami, kalau Majalah Forum Keadilanmengikuti keinginan si broker. Siapa sih yang tidaktergiur dengan uang segitu gede? Apalagi kondisikeuangan majalah Forum Keadilan sedang morat marit(untuk menggaji karyawannya saja tidak mampu).Kesepakatan diterima.Lalu ditulislah laporan utama tentang kasuspenggelapan pajak PT Makindo Tbk. Ddalam kasus ituorang yang dibidik adalah Gunawan Jusuf, DirekturUtama PT Makindo Tbk. Penulis laporan utama ini: RobbySoegara dan Sukowati Utami. Hebatnya, setelah naskahsudah selesai, si Bencong ikut memeriksa naskahsebelum naik cetak. Sungguh ini sesuatu yang palinganeh dan paling ajaib di dunia jurnalistik, yaitu adaorang di luar redaksi yang mempunyai kepentingan ikutmemeriksa atau mengedit naskah laporan utama. Justruhal itu terjadi di depan hidung penanggung jawabredaksi yang jebolan Tempo itu.Agaknya si broker itu senang. Lalu mengucurlah uang Rp50 juta untuk cetak edisi yang berisi laporan utamapenggelapan pajak PT Makindo Tbk itu. Foto GunawanJusuf, Dirut PT Makindo Tbk, dipajang di halaman muka(cover). Plus, sebuah judul, "The King of Crime".Penanggung jawab redaksi dan redaktur eksekutif ForumKeadilan tinggal memetik buah janji si broker yangakan pasang iklan selama dua tahun. Keduanya akanmendapat "jatah preman" dari uang yang dinanti-nantiitu. Di majalah Forum Keadilan memang dikenal istilah"jatah preman", yaitu komisi yang diberikan kepadaorang yang berhasil memasukkan uang ke majalah ForumKeadilan dengan cara apapun. Penanggung jawab redaksiPriyono B. Sumbogo adalah orang yang mensosialisasikanistilah itu. Dan, setiap uang yang masuk, khususnyadari "deal-deal" seperti di atas atau iklanterselubung lainnya, penanggung jawab redaksi pastimendapat "jatah preman". Besarnya berkisar 15 persensampai 30 persen. Jadi, hitung saja sendiri, "jatahpreman" yang berhasil diperoleh penanggung jawabredaksi dan redaktur eksekutif Forum Keadilan kalau sibroker itu mengucurkan duit setengah miliar.Tapi, apes. Memang bukan rejeki. Justru Forum Keadilanyang tertipu. Tunggu punya tunggu, ternyata si brokeryang bencong itu tak lagi memperlihatkan batanghidungnya di kantor Forum Keadilan. Ketika SukowatiUtami menghubungi handphone si broker, tidak adajawaban. Alamat pastinya tidak ada yang tahu. Sibroker tiba-tiba raib begitu saja. Forum Keadilan pungigit jari, cuma dapat Rp 50 juta dari janji diatas Rp500 juta.Inilah yang membuat kesal pengelola Forum Keadilan.Sebagai pelampiasan, "iklan promosi" itulah yangmuncul dalam setiap edisi Forum Keadilan. Hinggasekarang pun iklan itu masih muncul. Mungkin, iklanitu tetap dimunculkan sampai ada orang yang datangmengantarkan uang dan minta agar iklan itu tidaktampil lagi.Cerita ini pastilah akan membuat jurnalis miris. Dalammilis ini, kita sering meributkan angpau-angpau yangditerima jurnalis, padahal nilai angpau itu tidaklahseberapa. Tapi, ada angpau kakap--seperti cerita diatas--yang luput dari perhatian teman-teman jurnalis.Praktik "deal-deal kakap" yang dilakukan petinggiredaksi itu justru membuat profesi jurnalis kitatercabik-cabik. Dan, ironisnya, hal itu dilakukan olehmantan wartawan Tempo yang seharusnya menjadi panutan(mohon maaf kepada alumni Tempo lainnya, maaf jugakepada mas Farid Gaban yang alumni majalah Tempo danjuga kawan si penanggung jawab redaksi).Menurut teman dari kalangan dalam majalah ForumKeadilan itu, praktik seperti itu menjadi hal yanglumrah di majalah Forum Keadilan. Malah, sangpenanggung jawab redaksi berucap, "kalau bisa semuarubrik dijual". Maksudnya, para wartawan diminta untukmencari uang dengan menjual rubrik. Misalnya, rubrikwawancara atau profil. Seandainya ada orang yang mautampil dalam rubrik wawancara dan mau memberikan uangalias membayar, maka orang itu akan menjadi prioritas,terlepas dari si tokoh itu orang yang kompeten ataubukan (pernah Forum Keadilan memuat wawancara denganAdrian Waworuntu, penjarah uang Bank BNI itu, lalumendapat bayaran Rp 50 juta). Demikian pula rubrikprofil. Kalau ada orang yang mau diprofil dan membayaruang, maka orang itu pasti diutamakan. Nah, setiapuang yang mengalir dari praktik seperti itu, sangpenanggung jawab redaksi mendapat "jatah preman".Tapi, begitulah keadaan majalah Forum Keadilansekarang ini. Jangan Anda bandingkan dengan ForumKeadilan pada jaman Karni Ilyas. Di bawah nakhodaKarni Ilyas, mantan wartawan Tempo juga, kala itumajalah Forum Keadilan cukup terpandang. Oplahnyamelewati 100.000 eksemplar (karena menjadisatu-satunya majalah berita setelah majalah Tempo danEditor, serta tabloid Detik diberangus). Pada waktuitu pula, banyak pula eks Tempo yang bekerja dimajalah Forum Keadilan.Kondisi Forum Keadilan mulai menurun setelah ditinggalKarni Ilyas. Oplah mulai merosot terlebih setelahmajalah Gatra hadir, lalu majalah Tempo terbitkembali. Konflik internal di dalam tubuh majalah iniyang acap kali terjadi (kalau masalah ini diuraikanperlu satu cerita tersendiri dan pasti banyak versi)semakin membuat kondisi Forum Keadilan goncang. Hinggaakhirnya majalah Forum Keadilan benar-benarterperosok. Forum Keadilan saat ini sama sepertilangit dan bumi bila dibandingkan pada jaman KarniIlyas.Namun, bagi saya, yang membuat miris adalahpraktik-praktik atau deal-deal yang dilakukan redaksiuntuk mendapatkan pemasukan dengan mengorbankan etikajurnalisme. Parahnya, kalau praktik atau deal itudilakukan secara diam-diam oleh petinggi redaksi. Dan,uang yang masuk justru mengalir ke kantong pribadibukan ke perusahaan. Saya tidak tahu apakah media lainjuga melakukan praktik yang sama. Mungkin teman-temanmilis bisa memberi informasi.
-- Si vis pacem Parabellum ---Rahmad Budi HRepublikaJl Warung Buncit Raya 37 Jaksel0856 711 2387
--- Budi Sucahyo
-- Si vis pacem Parabellum ---Rahmad Budi HRepublikaJl Warung Buncit Raya 37 Jaksel0856 711 2387
Begnilah Ulah Penanggungjawab Redaksi Forum Keadilan
Mediacare, Mailinglist Ala PKI
Senin, 24 Desember 2007, sekitar pukul 20.00 WIB. Saat
itu saya sedang berada di sebuah mall di Jakarta
Selatan. Saya tengah sibuk memilih kaset DVD film
kartun anak-anak. Anak saya sedang gemar-gemarnya
menonton film kartun seperti Avatar, Naruto, atau film
kartun laga seperti Ultraman Gaya atau Power Rangers.
Tiba-tiba terdengar dering messages. Ah mungkin SMS
dari istri saya yang sedang menunaikan ibadah haji di
Tanah Suci. Biasanya pada jam-jam itulah istri saya
mengirim SMS. Di Tanah Suci mungkin sekitar pukul
15.00, saat menunggu shalat Ashar. Di sela-sela waktu
itu, dia sering mengirim SMS berkomunikasi dengan
saya.
Saya rogoh handphone dari kantong celana. Lalu saya
buka pesan. Ternyata bukan dari istri saya. Muncullah
pesan seperti ini.
“Hoi Bud, masih hp you nih).Terbitan beok ada foto you
dan Irawan ditutup matanya, sebagai oknum eks wartawan
FORUM pemakai Mediacare, mailinglist ala PKI”
(Kutipan sesuai dengan aslinya seperti tertera pada
SMS yang masih saya simpan. Ada kesalahan ketik,
seperti “beok” maksudnya mungkin “besok”. Yaitu
majalah Forum Keadilan yang terbit pada Senin, 31
Desember 2007).
Rupanya SMS dari Pri (begitu nama yang tertulis di hp
saya). Lengkapnya Priyono B (Bandot) Sumbogo,
penanggungjawab redaksi majalah Forum Keadilan. Sudah
berbulan-bulan saya tidak menerima SMS dari orang itu.
Membaca pesan itu, saya lantas bertanya-tanya, ada apa
lagi nih? Tidak ada angin, tidak ada hujan, kok
tiba-tiba ada SMS seperti itu. Tapi, saya tidak
membalas SMS itu. Seperti biasa, saya memang tak
pernah membalas SMS dari orang itu. Sebelumya orang
itu memang sering mengirim SMS kepada saya, tapi saya
hanya membacanya sekilas kemudian men-delete-nya. Saya
menganggapnya bukan SMS yang penting dibalas, hanyalah
SMS sampah. Kalau dibalas, selain rugi harus
kehilangan pulsa, juga tidak bermanfaat.
SMS itu kemudian saya forward ke Irawan. Saya tanya
kepada Irawan, ada tulisan apa tentang Forum Keadilan
di Mediacare. Ternyata tidak ada posting apa-apa
tentang Forum Keadilan di Mediacare. Lalu mengapa
orang itu mengirim pesan seperti itu kepada saya?
Barangkali ada postingan di Mediacare yang masih
membuat penanggungjawab redaksi Forum Keadilan itu
menyimpan dendam. Meneketehe. (mana aku tahu?)
Setelah SMS tadi, saya menerima beberapa SMS lanjutan.
Tapi saya tetap tidak membalas. Karena saya memang
nggak ngerti. Sampai pada keesokan harinya, 25
Desember, sore, penanggungjawab redaksi Forum Keadilan
itu masih mengirim SMS kepada saya. Salah satunya
berbunyi seperti ini.
“Ndal punya foto raditya mediacare. Biar tar dipasang
sama you and begundal irawan”.
Wah saya pikir orang ini memang ndableg. Perlu juga
sekali-sekali dikasih tahu. Akhirnya saya balas
seperti ini.
“You calon doktor bego amat sih. Jangan asal tuduh!
Sorry gw nggak ikut mediacare. Cerdas dikit dong
(eh..iya…preman mana ada yang cerdas…..)”
Orang itu kabarnya memang sedang mengambil program
doktor di UI. Gila juga, dalam hati saya,
mem-bego-bego- in calon doktor. (Yah kapan lagi bisa
mem-bego-bego- in calon doktor. Kalau sudah jadi
doktor, mungkin ia akan ingat bahwa hanya sayalah yang
pernah mengatakan dia bego, he…he…he). Bagaimana tidak
bego? Cek dan ricek adalah hal yang paling elementer
sebagai seorang jurnalis. Tak ada cek dan ricek sama
sekali. Asal tuduh saja. Tak heran kalau majalah Forum
Keadilan sering suka main tuduh tanpa cek dan ricek
sehingga kehilangan kredibilitas di mata media lain.
Perlu saya tegaskan bahwa saya memang bukan anggota
milis mediacare. Berani sumpah. Jadi tidak tahu
apa-apa tentang mediacare. Saya hanya anggota milis
Jurnalisme. Dan, itu pun, sudah sejak setahun ini saya
tidak pernah mem-posting. Saya hanya ikut Jurnalisme
secara pasif. Baru inilah postingan saya (itu pun
kalau diijinkan moderator.mas Farid Gaban yang juga
teman orang itu. Tadinya saya pesimis, karena
postingan ini menyangkut milis tetangga bukan tentang
Jurnalisme. Tapi saya pikir, rekan-rekan juga perlu
tahu).
Orang itu dikenal memang sering membuat perkara.
Menurut cerita yang pernah saya dengar dari kang
Dedeng (sekarang sekretaris redaksi Forum Keadilan),
di Majalah Gatra dulu orang itu pernah ribut dengan
Dwitri Waluyo, bahkan nyaris terjadi pemukulan. Di
Forum Keadilan, juga begitu. Ribut dengan Muhammad
Saleh, dan nyaris pula baku hantam dengan Ridwan
Pangkapi. Dia juga menzhalimi Ila Jamilah (sekretaris
direksi dan masih tercantum sebagai promosi Forum
Keadilan). Ila pernah berkata kepada saya, hanya
dengan mendengar suara orang itu, ia mengaku sudah
enek, serasa mau muntah. Begitu pula, orang itu
menzhalimi Suroso (waktu itu wartawan Forum Keadilan).
Juga orang itu bermasalah dengan Noorca M. Massardi
dan keluarganya. Dia juga bermusuhan dengan Tony
Hasyim, waktu itu Wapemred Forum Keadilan, di mana
Priyono pernah merengek-rengek agar bisa masuk di
Forum Keadilan. Jadi memang orang itu selalu membuat
masalah di tempat kerja dan bermusuhan dengan banyak
orang.
Di sebuah organisasi (saya lupa namanya), setelah
hengkang dari majalah Gamma, orang itu juga bermasalah
dengan Muchdi PR. Bahkan, dari cerita Kang Dedeng,
orang itu tidak akur dengan Amran Nasution, sesama
alumni Tempo. Padahal, hubungan keduanya amatlah
dekat. Amran Nasution sebelumnya meng-anak-emas- kan
orang itu. Tapi, orang itu menikam dari belakang.
Pernah pula bersama orang itu, saya bertemu dengan
Djafar Bedjeber, waktu itu politisi Partai Bintang
Reformasi (PBR). Orang itu, yang juga mengaku sebagai
partisan PBR, “kasak kusuk” tentang dana dari Djajanti
Group Prajogo Pangestu. Dan, setelah pertemuan, orang
itu berkata kepada saya, “Gue seneng kalau mereka pada
berkelahi”. Edan, pikir saya dalam hati waktu itu,
ada orang yang bangga telah mengadu-domba seperti itu.
Mailinglist ala PKI? Bukan hal yang aneh kalau orang
itu membuat perkara. Sekarang dengan anggota milis
Mediacare. Secara tidak langsung, sebenarnya orang itu
bermasalah juga dengan anggota milis Jurnalisme.
Sebab, banyak anggota milis Jurnalisme adalah juga
anggota milis Mediacare. Atau tak mau menyebut
Jurnalisme sebagai mailinglist ala PKI karena
dimoderatori mas Farid Gaban, yang juga mantan orang
Tempo? Entahlah. Tapi, menurut saya, mailinglist
adalah tempat berdiskusi, tempat berkreasi, sharing
informasi, tempat berbagi sepanjang mengikuti koridor,
yaitu aturan milis seperti ditetapkan moderator—secara
berkala moderator Jurnalisme rajin mengingatkan aturan
itu kepada anggota milis.
Seingat saya Jurnalisme pernah mendiskusikan soal
poligami Ade Armando atau soal intrik di redaksi
Global TV seiring pergantian pimpinan redaksi di
sana—naiknya Yadi Hendriyana, pernah juga bekerja di
Forum Keadilan, menjadi wakil pemimpin redaksi.
Diskusi atau posting mengenai hal itu bukankah sah-sah
saja sepanjang ada fakta dan sesuai dengan aturan
milis. Apakah ada yang salah? Rasanya kok tidak ya.
Adalah fakta juga kalau saya mengungkapkan bahwa
Priyono B. Sumbogo sebagai penanggungjawab redaksi
Forum Keadilan pernah menerima uang sebesar Rp 50 juta
dari Adrian Waworuntu, terpidana kasus pembobolan bank
BNI senilai Rp 1,3 triliun. Ini terjadi pada tahun
2005. Lewat seorang temannya sesama mahasiswa
pascasarjana Kriminologi yang menjadi pegawai LP
Cipinang. Ah, saya lupa nama pegawai itu. Mungkin
Hadi Rahman, saat ini masih di AJI Jakarta, bisa
mengingatnya. Karena Hadi Rahman terlibat langsung
dalam “proyek” ini—dan pastilah “dapat
bagian”—termasuk mewawancarai dan menulis hasil
wawancara dengan Adrian Waworuntu itu lalu muncul
sebagai cover depan majalah Forum Keadilan, dengan
wajah Adrian Waworuntu dan teks judul (kalau tidak
salah). “Saya Hanya Kambing Hitam”. (Sudah menjadi
terpidana masih juga bisa membela diri lewat wawancara
itu). Baik Priyono maupun temannya sesama mahasiswa
pascasarjana Kriminologi itu tentu sudah melihat
peluang (memang ada niat) bisa mendapatkan uang dari
Adrian Waworuntu. Dan temannya yang pegawai LP
Cipinang itu kecipratan komisi, saya lupa pastinya,
antara Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Jumlah yang besar
untuk seorang pegawai negeri. Hebatnya, keduanya
belajar di pascasarjana kriminologi, tapi malah
bertindak kriminal.
Adalah fakta juga kalau saya mengungkapkan bahwa
Priyono B. Sumbogo sebagai redaktur eksekutif majalah
Forum Keadilan pernah meninggalkan tugas dan
kewajibannya, bahkan pada saat yang sama bekerja di
Majalah Pilars milik Tomy Winata. Ini terjadi ketika
Noorca M. Massardi, sebagai pemimpin redaksi Majalah
Forum Keadilan, memperpanjang masa percobaan Priyono
sebagai redaktur eksekutif. Tapi, Priyono menolak
perpanjangan masa percobaan itu. Noorca tentu punya
pertimbangan dan tetap pada keputusannya. Priyono
mangkreng dan mutung. Hubungan Noorca dan Priyono
memang tidak bagus. Ini membuat suasana pekerjaan
menjadi tidak kondusif bagi Priyono. Saat itulah ia
meninggalkan tugas sebagai redaktur eksekutif. Secara
diam-diam, Priyono malah bekerja di Majalah Pilars.
Tapi, ia tidak melepaskan statusnya di majalah Forum
Keadilan. Seharusnya, kalau mau gentle, ia langsung
menyatakan keluar dari Majalah Forum Keadilan. Ini
tidak dilakukannya. Sedangkan tugas dan kewajibannya
sebagai redaktur eksekutif dikerjakan Kang Maman
Gantra. Priyono bukan saja disersi, tapi lebih dari
sekadar disersi.
Keadaan berbalik setelah Noorca memindahkan kantor
Forum Keadilan dari Wisma Fajar, Senayan, ke rumahnya
di Jl. Bank. Karyawan menolak pemindahan itu. Di saat
itulah, Priyono yang juga sudah berseberangan dengan
Timbo Siahaan, pemimpin umum Majalah Pilars, kembali
lagi ke Forum Keadilan. Dia meninggalkan tugas dan
kewajibannya di majalah Pilars—menjadi disersi lagi.
Berkat loby Ila Jamilah (sekretaris direksi yang
berulangkali mengkomunikasikan keluhan karyawan kepada
Rahmat Ismail, direktur utama sekaligus pemegang
saham), akhirnya karyawan bisa menerbitkan Forum
Keadilan tanpa Noorca M. Massardi. Dalam kekosongan
pimpinan seperti itu, Priyono B. Sumbogo mengangkat
dirinya sendiri sebagai penanggungjawab redaksi
(ingat, bukan pemimpin redaksi).
Saya sering mengibaratkan majalah Forum Keadilan itu
seperti sebuah kendaraan tua yang tidak dirawat dan
ditinggalkan pemiliknya (pemegang saham). Noorca M.
Massardi adalah sopir resmi kendaraan itu karena ia
mendapat mandat dari direksi. Setelah Noorca pergi,
tak ada lagi sopir resmi. Sekarang, kendaraan itu
disopiri Priyono B. Sumbogo. Ibaratnya, ia tak lebih
seorang “sopir tembak”, karena waktu itu tidak
mendapat mandat dari direksi (tak ada legalitas hitam
di atas putih berupa surat untuk menjalankan kendaraan
Forum Keadilan. Itu sebabnya dia bukanlah pemimpin
redaksi). Sungguh sayang, dengan pengalaman pernah di
Tempo, Gatra, atau Gamma, hanya menjadi “sopir
tembak”.
Itu sebabnya kendaraan Forum Keadilan dibawa secara
ugal-ugalan. Tabrak sana, tabrak sini. Dua kali
disemprit Dewan Pers (dalam kasus Raja Garuda Mas dan
kasus hak jawab yang tak dimuat), tapi tetap saja
“sopir tembak” itu tak peduli. Dalam pikirannya hanya
kejar setoran (bisa cetak dan menerbitkan) . Anehnya
para penumpangnya (awak Forum Keadilan) nyaman saja.
Sayang, orang seperti Asep R. Iskandar (Persatuan
Wartawan Indonesia Reformasi) atau Juli Indahrini
dibawa sopir ugal-ugalan. Kasihan……
Menyebut “Mediacare, mailinglist ala PKI” adalah salah
satu bentuk ugal-ugalan penanggungjawab majalah Forum
Keadilan itu. Bentuk lainnya, jika tidak suka pada
sesuatu (sekadar contoh tidak suka digugat secara
perdata oleh Irawan lewat Humphrey Jemat),
penanggungjawab redaksi ini menulis panjang lebar di
majalah Forum Keadilan membela diri. Sesuatu yang
tidak akan pernah—dan saya haqqul yakin, mustahil,
dilakukan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo atau Gatra,
bahkan Gunawan Muhammad sekalipun—yang menggunakan
berlembar-lembar di medianya untuk membela diri atau
menyudutkan orang lain. Selain tidak etis, bentuk
seperti itu bisa dianggap penyalahgunaan wewenang
sebagai pemimpin redaksi. Hanya oknum sajalah yang
menyalahgunakan wewenang. Lembaga bredel sebenarnya
dimaksudkan untuk menertibkan oknum-oknum petinggi
redaksi yang ugal-ugalan dan menyalahgunakan wewenang
seperti itu. Masak kita harus menghidupkan lagi
lembaga bredel?
To be continued…….(setelah ini saya pasti akan
menerima sms aneh-aneh dari orang itu, tapi pasti akan
saya cuekin).
Senin, 24 Desember 2007, sekitar pukul 20.00 WIB. Saat
itu saya sedang berada di sebuah mall di Jakarta
Selatan. Saya tengah sibuk memilih kaset DVD film
kartun anak-anak. Anak saya sedang gemar-gemarnya
menonton film kartun seperti Avatar, Naruto, atau film
kartun laga seperti Ultraman Gaya atau Power Rangers.
Tiba-tiba terdengar dering messages. Ah mungkin SMS
dari istri saya yang sedang menunaikan ibadah haji di
Tanah Suci. Biasanya pada jam-jam itulah istri saya
mengirim SMS. Di Tanah Suci mungkin sekitar pukul
15.00, saat menunggu shalat Ashar. Di sela-sela waktu
itu, dia sering mengirim SMS berkomunikasi dengan
saya.
Saya rogoh handphone dari kantong celana. Lalu saya
buka pesan. Ternyata bukan dari istri saya. Muncullah
pesan seperti ini.
“Hoi Bud, masih hp you nih).Terbitan beok ada foto you
dan Irawan ditutup matanya, sebagai oknum eks wartawan
FORUM pemakai Mediacare, mailinglist ala PKI”
(Kutipan sesuai dengan aslinya seperti tertera pada
SMS yang masih saya simpan. Ada kesalahan ketik,
seperti “beok” maksudnya mungkin “besok”. Yaitu
majalah Forum Keadilan yang terbit pada Senin, 31
Desember 2007).
Rupanya SMS dari Pri (begitu nama yang tertulis di hp
saya). Lengkapnya Priyono B (Bandot) Sumbogo,
penanggungjawab redaksi majalah Forum Keadilan. Sudah
berbulan-bulan saya tidak menerima SMS dari orang itu.
Membaca pesan itu, saya lantas bertanya-tanya, ada apa
lagi nih? Tidak ada angin, tidak ada hujan, kok
tiba-tiba ada SMS seperti itu. Tapi, saya tidak
membalas SMS itu. Seperti biasa, saya memang tak
pernah membalas SMS dari orang itu. Sebelumya orang
itu memang sering mengirim SMS kepada saya, tapi saya
hanya membacanya sekilas kemudian men-delete-nya. Saya
menganggapnya bukan SMS yang penting dibalas, hanyalah
SMS sampah. Kalau dibalas, selain rugi harus
kehilangan pulsa, juga tidak bermanfaat.
SMS itu kemudian saya forward ke Irawan. Saya tanya
kepada Irawan, ada tulisan apa tentang Forum Keadilan
di Mediacare. Ternyata tidak ada posting apa-apa
tentang Forum Keadilan di Mediacare. Lalu mengapa
orang itu mengirim pesan seperti itu kepada saya?
Barangkali ada postingan di Mediacare yang masih
membuat penanggungjawab redaksi Forum Keadilan itu
menyimpan dendam. Meneketehe. (mana aku tahu?)
Setelah SMS tadi, saya menerima beberapa SMS lanjutan.
Tapi saya tetap tidak membalas. Karena saya memang
nggak ngerti. Sampai pada keesokan harinya, 25
Desember, sore, penanggungjawab redaksi Forum Keadilan
itu masih mengirim SMS kepada saya. Salah satunya
berbunyi seperti ini.
“Ndal punya foto raditya mediacare. Biar tar dipasang
sama you and begundal irawan”.
Wah saya pikir orang ini memang ndableg. Perlu juga
sekali-sekali dikasih tahu. Akhirnya saya balas
seperti ini.
“You calon doktor bego amat sih. Jangan asal tuduh!
Sorry gw nggak ikut mediacare. Cerdas dikit dong
(eh..iya…preman mana ada yang cerdas…..)”
Orang itu kabarnya memang sedang mengambil program
doktor di UI. Gila juga, dalam hati saya,
mem-bego-bego- in calon doktor. (Yah kapan lagi bisa
mem-bego-bego- in calon doktor. Kalau sudah jadi
doktor, mungkin ia akan ingat bahwa hanya sayalah yang
pernah mengatakan dia bego, he…he…he). Bagaimana tidak
bego? Cek dan ricek adalah hal yang paling elementer
sebagai seorang jurnalis. Tak ada cek dan ricek sama
sekali. Asal tuduh saja. Tak heran kalau majalah Forum
Keadilan sering suka main tuduh tanpa cek dan ricek
sehingga kehilangan kredibilitas di mata media lain.
Perlu saya tegaskan bahwa saya memang bukan anggota
milis mediacare. Berani sumpah. Jadi tidak tahu
apa-apa tentang mediacare. Saya hanya anggota milis
Jurnalisme. Dan, itu pun, sudah sejak setahun ini saya
tidak pernah mem-posting. Saya hanya ikut Jurnalisme
secara pasif. Baru inilah postingan saya (itu pun
kalau diijinkan moderator.mas Farid Gaban yang juga
teman orang itu. Tadinya saya pesimis, karena
postingan ini menyangkut milis tetangga bukan tentang
Jurnalisme. Tapi saya pikir, rekan-rekan juga perlu
tahu).
Orang itu dikenal memang sering membuat perkara.
Menurut cerita yang pernah saya dengar dari kang
Dedeng (sekarang sekretaris redaksi Forum Keadilan),
di Majalah Gatra dulu orang itu pernah ribut dengan
Dwitri Waluyo, bahkan nyaris terjadi pemukulan. Di
Forum Keadilan, juga begitu. Ribut dengan Muhammad
Saleh, dan nyaris pula baku hantam dengan Ridwan
Pangkapi. Dia juga menzhalimi Ila Jamilah (sekretaris
direksi dan masih tercantum sebagai promosi Forum
Keadilan). Ila pernah berkata kepada saya, hanya
dengan mendengar suara orang itu, ia mengaku sudah
enek, serasa mau muntah. Begitu pula, orang itu
menzhalimi Suroso (waktu itu wartawan Forum Keadilan).
Juga orang itu bermasalah dengan Noorca M. Massardi
dan keluarganya. Dia juga bermusuhan dengan Tony
Hasyim, waktu itu Wapemred Forum Keadilan, di mana
Priyono pernah merengek-rengek agar bisa masuk di
Forum Keadilan. Jadi memang orang itu selalu membuat
masalah di tempat kerja dan bermusuhan dengan banyak
orang.
Di sebuah organisasi (saya lupa namanya), setelah
hengkang dari majalah Gamma, orang itu juga bermasalah
dengan Muchdi PR. Bahkan, dari cerita Kang Dedeng,
orang itu tidak akur dengan Amran Nasution, sesama
alumni Tempo. Padahal, hubungan keduanya amatlah
dekat. Amran Nasution sebelumnya meng-anak-emas- kan
orang itu. Tapi, orang itu menikam dari belakang.
Pernah pula bersama orang itu, saya bertemu dengan
Djafar Bedjeber, waktu itu politisi Partai Bintang
Reformasi (PBR). Orang itu, yang juga mengaku sebagai
partisan PBR, “kasak kusuk” tentang dana dari Djajanti
Group Prajogo Pangestu. Dan, setelah pertemuan, orang
itu berkata kepada saya, “Gue seneng kalau mereka pada
berkelahi”. Edan, pikir saya dalam hati waktu itu,
ada orang yang bangga telah mengadu-domba seperti itu.
Mailinglist ala PKI? Bukan hal yang aneh kalau orang
itu membuat perkara. Sekarang dengan anggota milis
Mediacare. Secara tidak langsung, sebenarnya orang itu
bermasalah juga dengan anggota milis Jurnalisme.
Sebab, banyak anggota milis Jurnalisme adalah juga
anggota milis Mediacare. Atau tak mau menyebut
Jurnalisme sebagai mailinglist ala PKI karena
dimoderatori mas Farid Gaban, yang juga mantan orang
Tempo? Entahlah. Tapi, menurut saya, mailinglist
adalah tempat berdiskusi, tempat berkreasi, sharing
informasi, tempat berbagi sepanjang mengikuti koridor,
yaitu aturan milis seperti ditetapkan moderator—secara
berkala moderator Jurnalisme rajin mengingatkan aturan
itu kepada anggota milis.
Seingat saya Jurnalisme pernah mendiskusikan soal
poligami Ade Armando atau soal intrik di redaksi
Global TV seiring pergantian pimpinan redaksi di
sana—naiknya Yadi Hendriyana, pernah juga bekerja di
Forum Keadilan, menjadi wakil pemimpin redaksi.
Diskusi atau posting mengenai hal itu bukankah sah-sah
saja sepanjang ada fakta dan sesuai dengan aturan
milis. Apakah ada yang salah? Rasanya kok tidak ya.
Adalah fakta juga kalau saya mengungkapkan bahwa
Priyono B. Sumbogo sebagai penanggungjawab redaksi
Forum Keadilan pernah menerima uang sebesar Rp 50 juta
dari Adrian Waworuntu, terpidana kasus pembobolan bank
BNI senilai Rp 1,3 triliun. Ini terjadi pada tahun
2005. Lewat seorang temannya sesama mahasiswa
pascasarjana Kriminologi yang menjadi pegawai LP
Cipinang. Ah, saya lupa nama pegawai itu. Mungkin
Hadi Rahman, saat ini masih di AJI Jakarta, bisa
mengingatnya. Karena Hadi Rahman terlibat langsung
dalam “proyek” ini—dan pastilah “dapat
bagian”—termasuk mewawancarai dan menulis hasil
wawancara dengan Adrian Waworuntu itu lalu muncul
sebagai cover depan majalah Forum Keadilan, dengan
wajah Adrian Waworuntu dan teks judul (kalau tidak
salah). “Saya Hanya Kambing Hitam”. (Sudah menjadi
terpidana masih juga bisa membela diri lewat wawancara
itu). Baik Priyono maupun temannya sesama mahasiswa
pascasarjana Kriminologi itu tentu sudah melihat
peluang (memang ada niat) bisa mendapatkan uang dari
Adrian Waworuntu. Dan temannya yang pegawai LP
Cipinang itu kecipratan komisi, saya lupa pastinya,
antara Rp 15 juta sampai Rp 20 juta. Jumlah yang besar
untuk seorang pegawai negeri. Hebatnya, keduanya
belajar di pascasarjana kriminologi, tapi malah
bertindak kriminal.
Adalah fakta juga kalau saya mengungkapkan bahwa
Priyono B. Sumbogo sebagai redaktur eksekutif majalah
Forum Keadilan pernah meninggalkan tugas dan
kewajibannya, bahkan pada saat yang sama bekerja di
Majalah Pilars milik Tomy Winata. Ini terjadi ketika
Noorca M. Massardi, sebagai pemimpin redaksi Majalah
Forum Keadilan, memperpanjang masa percobaan Priyono
sebagai redaktur eksekutif. Tapi, Priyono menolak
perpanjangan masa percobaan itu. Noorca tentu punya
pertimbangan dan tetap pada keputusannya. Priyono
mangkreng dan mutung. Hubungan Noorca dan Priyono
memang tidak bagus. Ini membuat suasana pekerjaan
menjadi tidak kondusif bagi Priyono. Saat itulah ia
meninggalkan tugas sebagai redaktur eksekutif. Secara
diam-diam, Priyono malah bekerja di Majalah Pilars.
Tapi, ia tidak melepaskan statusnya di majalah Forum
Keadilan. Seharusnya, kalau mau gentle, ia langsung
menyatakan keluar dari Majalah Forum Keadilan. Ini
tidak dilakukannya. Sedangkan tugas dan kewajibannya
sebagai redaktur eksekutif dikerjakan Kang Maman
Gantra. Priyono bukan saja disersi, tapi lebih dari
sekadar disersi.
Keadaan berbalik setelah Noorca memindahkan kantor
Forum Keadilan dari Wisma Fajar, Senayan, ke rumahnya
di Jl. Bank. Karyawan menolak pemindahan itu. Di saat
itulah, Priyono yang juga sudah berseberangan dengan
Timbo Siahaan, pemimpin umum Majalah Pilars, kembali
lagi ke Forum Keadilan. Dia meninggalkan tugas dan
kewajibannya di majalah Pilars—menjadi disersi lagi.
Berkat loby Ila Jamilah (sekretaris direksi yang
berulangkali mengkomunikasikan keluhan karyawan kepada
Rahmat Ismail, direktur utama sekaligus pemegang
saham), akhirnya karyawan bisa menerbitkan Forum
Keadilan tanpa Noorca M. Massardi. Dalam kekosongan
pimpinan seperti itu, Priyono B. Sumbogo mengangkat
dirinya sendiri sebagai penanggungjawab redaksi
(ingat, bukan pemimpin redaksi).
Saya sering mengibaratkan majalah Forum Keadilan itu
seperti sebuah kendaraan tua yang tidak dirawat dan
ditinggalkan pemiliknya (pemegang saham). Noorca M.
Massardi adalah sopir resmi kendaraan itu karena ia
mendapat mandat dari direksi. Setelah Noorca pergi,
tak ada lagi sopir resmi. Sekarang, kendaraan itu
disopiri Priyono B. Sumbogo. Ibaratnya, ia tak lebih
seorang “sopir tembak”, karena waktu itu tidak
mendapat mandat dari direksi (tak ada legalitas hitam
di atas putih berupa surat untuk menjalankan kendaraan
Forum Keadilan. Itu sebabnya dia bukanlah pemimpin
redaksi). Sungguh sayang, dengan pengalaman pernah di
Tempo, Gatra, atau Gamma, hanya menjadi “sopir
tembak”.
Itu sebabnya kendaraan Forum Keadilan dibawa secara
ugal-ugalan. Tabrak sana, tabrak sini. Dua kali
disemprit Dewan Pers (dalam kasus Raja Garuda Mas dan
kasus hak jawab yang tak dimuat), tapi tetap saja
“sopir tembak” itu tak peduli. Dalam pikirannya hanya
kejar setoran (bisa cetak dan menerbitkan) . Anehnya
para penumpangnya (awak Forum Keadilan) nyaman saja.
Sayang, orang seperti Asep R. Iskandar (Persatuan
Wartawan Indonesia Reformasi) atau Juli Indahrini
dibawa sopir ugal-ugalan. Kasihan……
Menyebut “Mediacare, mailinglist ala PKI” adalah salah
satu bentuk ugal-ugalan penanggungjawab majalah Forum
Keadilan itu. Bentuk lainnya, jika tidak suka pada
sesuatu (sekadar contoh tidak suka digugat secara
perdata oleh Irawan lewat Humphrey Jemat),
penanggungjawab redaksi ini menulis panjang lebar di
majalah Forum Keadilan membela diri. Sesuatu yang
tidak akan pernah—dan saya haqqul yakin, mustahil,
dilakukan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo atau Gatra,
bahkan Gunawan Muhammad sekalipun—yang menggunakan
berlembar-lembar di medianya untuk membela diri atau
menyudutkan orang lain. Selain tidak etis, bentuk
seperti itu bisa dianggap penyalahgunaan wewenang
sebagai pemimpin redaksi. Hanya oknum sajalah yang
menyalahgunakan wewenang. Lembaga bredel sebenarnya
dimaksudkan untuk menertibkan oknum-oknum petinggi
redaksi yang ugal-ugalan dan menyalahgunakan wewenang
seperti itu. Masak kita harus menghidupkan lagi
lembaga bredel?
To be continued…….(setelah ini saya pasti akan
menerima sms aneh-aneh dari orang itu, tapi pasti akan
saya cuekin).
Langganan:
Postingan (Atom)